Bukur jagung

Mamah dan Abi pergi keluar rumah, menuju pasar malam di sebrang sana, menyebabkan diriku bersama Dafa, menjadi teman sepertidurannya, aku tidak benar benar tertidur, supaya tahu kalau dia nanti lari kemana, tidak sampai lima menit mereka pergi, Dafa terbangun, saya belum, sengaja , supaya Dafa nangis dulu, setelah kira kira 3-5 menit, saya bangun sambil memanggil manggil namanya, seakan akan dia hilang namun masih terdengar, aku sengaja, supaya panik, aku keluar masuk kamar agar suasana menjadi terasa lebih nyata, nyata jailnya, setelah puas, aku duduk disebelahnya, seraya mata yang langsung menatap. "Dafa ?? Kenapa nangis, ko tadi ga keliatan ??" Ucapku agak serius, "eeeee eeeeee eeeee eeeee eeeee" jawab dia yang kudengar, sebenarnya itu masih menangis,memang bagaimana penulisan menangis yang benar? Huhuhu ? Ah Kurasa tidak begitu, "eeeee eeeee eeee" jawabnya masih dengan suara yang sama, ah mamah pulang.

Dafa sudah tenang ,menyebabkan saya mengajak Abi untuk pergi main kerumah Bimbim , bukan Bimbim Slank. aku sengaja mengajak abi, jika tidak kuajak pergi,
Sudah kupastikan ia menjadi beruang, beruang yang hibernasi dikamar, beruang yang bukan beneran. Kami pergi, tidak lupa mengucap salam dan tidak lupa juga mendengar jawabannya. Kami sampai , belum terlalu malam, disana ada dua orang teman Bimbim yang sedang asik mengoptimalkan jari jemari dan mata untuk bersenang dengan ponselnya, " bawa jagung nih, bakar yu, Nene mana ? " Tanya ku ke Bimbim, assalamualaikum ne,"waalaikumsalam , ehh imam, Abi, bawa apa itu" ini jagung ne warnanya kuning , tapi ga jamin rasanya manis, kata abangnya sih manis, tapikan semua tukang buah juga ngomongnya gitu sih, eh kecuali tukang cabai. " Yaudah sini kita kupas dulu" okeeeee neee

Bim!! Ini ada kayu buat bakar bakar, kenapa nyuruh beli arangg !. Sebenarnya sih bukan permasalahan besar seperti masalahmu, hehe. " Iya kirain tadi ga ada kayu, Bimbim juga baru tau disini ada kayu" jawab bimbim. Yaudah gapapa ayo kita bakar. Kami membuat api besar malam itu. Untung saja tidak membuat jagung menjadi hitam, itu semua karena kecepatan tangan kami mengendalikan perputaran jagung, kami bisa karena kami mau, mau berusaha supaya mereka yang menunggu bisa menikmati dengan enak, mau berkorban walau panas terasa lebih di tangan. Sepertinya memang itulah yang harus kita perbuat untuk orang orang yang ingin kita senang kan, berusaha dan berkorban. Jagung matang dan kami makan bersama, malam itu kami senang, malam dingin selepas gerimis tidaklah  begitu buruk. bakar jagung  di beri toping saus enak juga ya hehe. Ternyata bahagia tidak selalu dengan hal hal yang merepotkan , merepotkan dirimu karena kamu harus mau mahal demi gengsi. Kamu, jangan begitu ya. Jadilah dirimu sendiri :)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

terus hidup

terpendam

langkah kaki