langkah kaki

Kau. pergilah selagi kaki mu masih bisa melangkah, selagi waktu masih memberimu ruang, selagi kau masih tau arah untuk kau pulang.
Rumah itu tidak mewah, tapi disana terkubur ingatan, tidak semuanya baik, sejarah duniapun begitu, ada yang lahir dari kesengsaraan, ketidaksesuaian, pengorbanan, seeperti hiroshima yang hancur dan kita yang senang datangnya kebebasan.
Rumahku walaupun sederhana mampu membuat hidup orang orang didalamnya, merasa saling memiliki dan melindungi.
Disana tersemai kasih sayang yang tumbuh saat fajar dan merekah ketika malam, seterusnya seperti itu. Ibu ku jelas punya semua yang aku mau, ia menjadi dokter yang paling hebat ketika anaknya sakit, dia menjadi chief paling handal dimuka bumi, dia menjadi mekanik paling lihai ketika mainan anaknya rusak, dia juga bisa menjadi teman bagi setiap anak anaknya. Sedang ayahku adalah yang menjadi pahlawan tak kenal lelah, yang menahannya dengan senyum terpampang di hadapan anaknya, yang memiliki serat otot kuat, yang mampu menahan segala beban tak terhitung jumlahnya, yang hobi memancing, yang senang meroko, yang meminta uang kepada ibu sedang dia adalah yang mencarinya. 
Sekarang aku sudah jauh, dibatasi oleh jarak yang apabila ku hitung, terhitung juga ikan dan laut yang memisahkan keduanya, aku sudah membuat kesalahan dengan caraku meninggalkan rindu kepada mereka, anakmu ini sedang mencari tujuannya untuk hidup, walaupun ku tau hakikatnya hidup hanya menunggu kematian dan mengisi kekosongan di antaranya dengah kekonyolan dunia, itulah sebab jarak ini, mungkin agar diriku mampu menghargai pertemuan, menghargai setiap waktu yang ada, setiap kehangatan di tengah tengah keluarga.
Aku akan kembali, entah kapan, tapi pasti.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

terus hidup

terpendam